Skip to main content

Buku Ajaib yang Memasak Impian

Impian. Bagi sebagian orang, impian merupakan sesuatu yang bersifat krusial. Terkadang, impian dijadikan patokan. Patokan kebahagiaan dan kesuksesan. Seseorang dianggap sukses dan bahagia, jika impiannya sudah terwujud. Maka dari itu, semua orang berlomba meraih impiannya untuk berbagai macam hal dan kepentingan. Begitu juga saya. Saya punya impian. Saya yang dulu masih seorang pelajar SMA, punya impian untuk menjadi juara kelas. 

Saya terus belajar, tapi saya selalu gagal menjadi juara kelas, karena di atas langit, masih ada langit. Masih banyak siswa lain di kelas saya yang lebih pintar dari saya. Selama proses belajar untuk menjadi juara kelas itu, saya juga merasa lelah dan jenuh. Karena gagal, saya merasa bahwa saya tidak berguna, saya tidak layak memiliki impian. Saya menyerah dalam proses pencapaian impian saya. 

Lalu, seiring berjalannya waktu, saya merasa bahwa impian tidaklah terlalu penting. Bagus jika seseorang bisa meraih impian, tapi jika tidak, juga tidak apa-apa. Semakin tua, yang saya inginkan hanyalah hidup yang bahagia, bebas dari stres. Sampai akhirnya saya menjadi mahasiswa. Jika ditanya apa impian saya, maka saya akan menjawab sesuai dengan impian standar yang selalu diinginkan setiap mahasiswa, mendapatkan IPK yang bagus. Akhirnya, hari demi hari banyak saya habiskan untuk belajar, mendapatkan IPK setinggi mungkin. Tapi, jika ditanya apakah saya bahagia, jawabannya biasa saja, justru saya merasa lelah karena pagi, siang, dan malam saya habiskan untuk mencatat dan belajar. Apakah IPK tinggi benar-benar menjadi impian saya? Entahlah. Sepertinya tidak. Saya sendiri tidak tahu.

Sampai akhirnya, ketika berkunjung ke Gramedia, ada salah satu buku yang menarik perhatian saya, karena ilustrasi kovernya yang sangat mencuri perhatian, minta dibeli. Judul bukunya adalah Kafe Ajaib yang Memasak Impian, karya penulis asal Korea Selatan, Kim Suyoung, dilengkapi ilustrasi menarik dan eye catching karya ilustrator Cho Hea Seung. Judulnya pun sangat menarik, membuat saya tanpa pikir panjang langsung memutuskan untuk membelinya.

Kover Buku Kafe Ajaib yang Memasak Impian

Harganya memang lebih mahal dibanding buku-buku lainnya, dikarenakan buku ini dilengkapi ilustrasi berwarna yang sangat menarik. Sebelum mulai membaca, saya merenungkan terlebih dahulu judul buku tersebut, sambil menebak-nebak apa kira-kira isi di dalamnya. 

Satu kata yang sangat mengusik perhatian saya adalah impian. Saat itu, saya pikir, impian adalah mengenai kau ingin menjadi apa atau melakukan apa dan apa keinginanmu. Tapi, saya sudah dewasa, saya rasa orang dewasa seperti saya ini, sudah tidak perlulah yang namanya lagi memikirkan impian. Selain itu, saya juga berpikir, apa yang spesial dari impian? Kenapa sampai harus dimasak?

Karena pemikiran tersebut, saya tidak langsung membuka plastik pembungkus buku tersebut. Saya juga disibukkan dengan tugas-tugas kuliah sehingga tidak punya waktu untuk membacanya. Hingga akhirnya libur semester tiba. Pada pergantian semester ini, saya harus menentukan arah peminatan saya. Peminatan apa yang akan saya ambil untuk di semester depan. Saya adalah seorang mahasiswa dari jurusan Pariwisata. Dunia pariwisata itu sangat luas, ada banyak industri yang berkecimpung di dunia pariwisata, seperti akomodasi, food and beverage, transportasi, event, sampai perencanaan destinasi wisata itu sendiri. Dan saya harus mulai memilih, di bagian industri pariwisata yang mana, saya harus berkonsentrasi.

Di situ, saya mulai bimbang. Teman-teman saya bisa menentukan dengan mudah. Tidak dengan saya. Saya pusing tujuh keliling. Saya meminta saran pada banyak orang, dan semua orang mengatakan pilihlah sesuai minatmu. Permasalahannya adalah, diantara peminatan-peminatan tersebut, saya bingung dengan minat saya sendiri. Saya terlalu fokus mencari nilai sempurna untuk setiap mata kuliah, sampai saya lupa untuk mencari tahu ke arah mana minat saya di bidang pariwisata ini. Dosen pembimbing akademik saya sudah meminta jawaban mengenai peminatan apa yang saya pilih. Saya hanya terdiam. Lagi-lagi, saya meminta perpanjangan waktu untuk berpikir. 

Di sela-sela saya berpikir, seorang teman bercerita pada saya, bahwa dia memilih peminatan tersebut, didasarkan pada impiannya. Sejak kecil, ia sudah memiliki impian tersebut, dan sekarang ia sedang dalam perjalanan untuk mewujudkan impiannya. Wah, saya iri mendengarnya. Lalu, teman saya memberi saya saran, pikirkan apa yang menjadi impian saya. Menurut pandangannya, impian tidak melulu soal ingin menjadi apa di masa depan, tapi juga bisa ingin melakukan apa, ingin merasakan apa, ingin hidup seperti apa di masa depan. 

Jika di masa depan ingin melakukan perjalanan keliling dunia, menabunglah dari sekarang. Jika di masa depan ingin merasa bahagia, maka buatlah analisis, apa yang bisa membuatmu bahagia, cari kebahagiaan itu mulai dari sekarang. Jika di masa depan ingin hidup panjang dan sehat, maka sejak sekarang, konsumsi banyak makanan sehat, perbanyak olahraga. 

Penggambaran sederhana itu cukup membuat saya berpikir panjang. Saya harus mencari tahu apa impian saya, untuk memudahkan saya memilih peminatan yang akan saya ambil. Sesampainya di rumah, saya teringat buku yang pernah saya beli, Kafe Ajaib yang Memasak Impian. Saat itu, saya merasa mungkin buku tersebut bisa membantu saya, hingga akhirnya untuk pertama kalinya sesudah dibeli, saya membuka plastik pembungkus buku tersebut, dan masuk ke halaman pertama, halaman daftar isi, dan kisah pencarian impian saya dimulai dari bab 1, atau di dalam buku disebut hari 1.

Sekadar informasi, buku ini diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2019. Buku ini menceritakan seorang gadis kecil bernama Na Di-Ah yang secara kebetulan menemukan kafe bernama Bumi Bermimpi. Pemilik kafe tersebut biasa dipanggil Gadis Kaya Impian, seperti namanya, ia memiliki banyak impian. 

Mendengar namanya saja sudah membuat saya, yang saat itu tidak punya impian apa-apa, merasa iri. Akhirnya, saya mulai menjelejahi cerita perjalanan Na Di-Ah mencari impiannya, dengan bantuan dari Gadis Kaya Impian. 

Pada setiap akhir bab, pembaca akan diajak mengerjakan PR yang berkaitan dengan impian. Melalui PR itu, saya jadi merefleksikan banyak hal yang terjadi di sekitar saya, orang-orang terdekat saya, harapan saya, dan tentunya impian saya. Saya menjadi lebih mengenal diri saya sendiri. Awalnya, terasa canggung mengerjakan PR tersebut, karena pertanyaan-pertanyaan dalam PR-nya banyak mengajak saya untuk lebih mengenal diri sendiri.

Beberapa pertanyaan tersebut adalah 5 hal yang membuat saya bahagia, 5 hal yang menjadi kelebihan saya, dan 5 hal yang menarik bagi saya. Saat itu, saya tidak menuliskan sampai 5, karena saya terlalu bingung.

Saya hanya menulis, saya bahagia ketika bisa pergi berlibur bersama teman dan keluarga, hal yang menjadi kelebihan saya adalah, saya seorang pendengar yang baik, dan saya punya hobi yang positif, yaitu menulis. Dan hal yang menarik bagi saya adalah mempelajari bahasa asing. Pertanyaan selanjutnya adalah, berdasarkan hal-hal tersebut, tulislah daftar impian saya.

Dari situ, saya memahami bahwa impian saya adalah sesuatu yang menarik bagi saya, sesuatu yang bersumber dari salah satu kelebihan saya, dan sesuatu yang membuat saya bahagia. Tanpa ragu, saya menulis dua daftar impian saya yang pertama, yaitu: 

1. Saya ingin menjadi penulis

2. Saya ingin pergi berlibur keluar negeri bersama keluarga saya 

Selanjutnya, saya diminta untuk menuliskan hal-hal apa saja yang harus saya lakukan untuk dapat meraih impian tersebut. Untuk impian pertama saya, tentu saja saya harus banyak berlatih menulis, dan mengirimkan contoh tulisan saya ke media atau penerbit untuk dimuat. Sedangkan untuk impian kedua, saya tentunya harus menabung, atau bekerja paruh waktu.

Tidak hanya itu, saya juga diminta untuk menuliskan tenggat waktunya, sesuatu yang membuat saya cukup bingung, karena saya tidak tahu bagaimana harus menentukan tenggat waktunya. Akhirnya, saya memutuskan untuk menjalaninya perlahan-lahan, dimulai dari menabung Rp 100.000 per bulan, dan mencoba menyelesaikan satu buah tulisan per minggu.

Lama kelamaan, target tersebut meningkat seiring berjalannya waktu. Yang awal mula Rp 100.000 per bulan menjadi Rp 100.000 per 2 minggu, karena saya mendapatkan pekerjaan paruh waktu di kampus saya. Lalu, hasil tulisan saya, mulai saya kirimkan ke media yang menerima tulisan dari pemula seperti saya.

Sembari mencoba meraih 2 impian pertama saya, saya juga menemukan impian saya yang lainnya, yang terpikir secara tiba-tiba ketika saya melihat promo tiket pesawat untuk penerbangan domestik. Saya ingin keliling Indonesia, meski membutuhkan waktu yang lama, setidaknya saya ingin mencoba menjelajahi beberapa tempat yang ada di Indonesia. Lantas, itu menjadi impian ketiga saya.

Hingga akhirnya, tiba hari dimana saya harus melaporkan kepada dosen pembimbing akademik saya, mengenai peminatan apa yang akan saya ambil. Lalu, saya pun memikirkan, apa yang menjadi kelebihan saya, apa yang menarik di mata saya, dan apa yang membuat saya bahagia. Setelah memikirkan matang-matang, membuat gambaran kira-kira kesempatan dan risiko apa saja yang ada jika saya memilih peminatan tersebut, akhirnya saya yakin bahwa peminatan tersebut adalah peminatan yang tepat untuk saya. 

Saya mengambil peminatan perencanaan destinasi wisata, yang saya rasa bisa membantu saya mewujudkan impian ketiga saya, yaitu keliling Indonesia.

Hari berganti hari, semakin hari, impian saya juga semakin bertambah, dan satu per satu mulai tercapai. Pada tahun lalu, salah satu tulisan saya berhasil dimuat di surat kabar. Tabungan saya juga meningkat, membuat saya yakin, setelah pandemi berakhir nanti, saya pasti bisa berlibur lagi, entah itu ke dalam negeri atau keluar negeri.

Hingga akhirnya, saya sampai pada bab terakhir di buku ini. PR terakhirnya adalah untuk menuliskan nama-nama orang yang pasti mendukung impian saya, orang yang impiannya akan saya dukung, dan bagaimana cara mewujudkan impian tersebut, baik impian saya atau impian orang yang saya dukung, secara bersama-sama.

Orang yang pasti mendukung impian saya adalah keluarga saya, orangtua saya yang selalu percaya pada saya, dan juga teman-teman terdekat saya yang selalu membantu saya. Begitu juga dengan impian orang lain yang akan saya dukung, tentu saja impian keluarga saya dan teman-teman terdekat saya. Cara untuk mewujudkannya juga beragam, tergantung impian itu sendiri. Contohnya, saya dan teman kuliah saya sama-sama ingin mendapatkan IPK yang baik, maka kami saling bertanya jika tidak tahu, belajar bersama, dan juga memberi masukan terhadap tugas masing-masing. 

Di situ, saya merasa yakin bahwa dalam proses pencapaian impian ini, saya tidak sendiri. Akan ada banyak pihak yang membantu saya. Begitu juga, saya akan bersedia membantu mereka meraih impian mereka. Saling bahu membahu bisa meringankan beban diri sendiri dan orang lain, juga membantu kita semakin dekat dengan impian masing-masing. Jika semuanya dijalani seorang diri, tentulah terasa berat. Tapi dengan saling membantu dan menolong, bersama-sama kita bisa mewujudkan impian masing-masing.

Selain itu, ada sepenggal kalimat yang sangat menarik untuk saya, tentang kebebasan. 

“Aku bisa pergi ke mana pun.

Aku bisa melakukan apa pun.

Aku bisa menjadi siapa pun.”

Seperti penggalan kalimat tersebut, saya yakin saya bisa melangkah ke mana pun, melakukan apa pun yang membuat saya bahagia, dan menjadi versi terbaik dari diri saya sendiri.

Terakhir, ada sebuah kalimat yang harus dilengkapi, yang berbunyi, "Impianku adalah ____. Aku harus memiliki impian karena ______." Tanpa ragu, saya melengkapi kalimat itu, "Impianku adalah menjadi penulis sekaligus traveler yang bisa berkeliling Indonesia. Aku harus memiliki impian karena bermimpi membuatku semangat menjalani hidup."

Buku Kafe Ajaib yang Memasak Impian telah menemani perjalanan adaptasi saya dengan impian saya. Saya yang dulunya adalah Gadis Miskin Impian, sekarang adalah seseorang yang punya banyak impian, menunggu untuk diwujudkan satu per satu.

Berkat buku ini, saya belajar banyak hal. Terutama kisah saya ketika masih SMA dulu, dimana saya ingin menjadi juara satu. Di situ, saya gagal meraih impian saya, karena saya kurang memahami diri saya sendiri. Saat itu, yang saya lakukan hanyalah mengikuti standar yang berlaku. Normalnya, seorang pelajar memiliki impian menjadi juara kelas, pemenang lomba, dan lain sebagainya. Tanpa tahu batas dan kemampuan diri, saya juga menyamakan impian saya dengan standar tersebut. Padahal, saya orang yang tidak tidak terlalu menonjol di bidang akademik. Alhasil, saya merasa memiliki impian adalah hal yang terlalu mewah untuk seseorang yang selalu gagal seperti saya.

Padahal, sebenarnya, saya hanya perlu mengenal terlebih dahulu diri saya sendiri, kelebihan saya, hal yang menarik bagi saya, dan hal yang membuat saya bahagia. Dengan begitu, saya bisa menentukan impian saya sendiri tanpa perlu mengikuti standar impian umum.

Karena memiliki banyak impian yang mengantre untuk diwujudkan satu per satu, saya menjadi semangat untuk menyambut hari baru setiap harinya, karena hari baru adalah kesempatan baru, kesempatan untuk meraih impian saya satu per satu. 

Dengan adanya keyakinan itu, saya selalu berusaha untuk hidup tanpa penyesalan. Hidup dengan melakukan apa yang membuat saya bahagia, tanpa perlu memedulikan pendapat orang lain. 

Bahkan, jika saya sudah meninggal sebelum sempat mewujudkan semua impian saya, tidak apa-apa. Setidaknya saya meninggal dalam kondisi kaya. Kaya impian. 

 

#BersamaBeradaptasi #GPU47

 

 

Comments

Popular posts from this blog

How I Got the GKS G 2025 Scholarship | 2025년 정부초청 외국인 장학생 얻은 법

 안녕하세요! 만나서 반갑습니다~ Back in high school, I fell in love with Korean dramas and dreamed of majoring in Korean Literature someday. But after lots of thinking (and a bit of fear), I chose to study Korean in a language course instead of university. To be honest? I regret that decision. After studying Korean in a language course for about 5 years, I felt my skills had improved a lot but still not enough for a real working environment. Last year, I took the TOPIK II exam without expecting much. My only hope was to pass and maybe get level 4 out of 6. But when the results came out… I got level 5...  I was happy, but also a little confused. I didn’t think I was that good. Maybe I was just lucky with a few guesses 😅 Still, it gave me confidence to dream a little bigger. Last January, when I found out the GKS Graduate Scholarship 2025 was open, I decided to try my luck. To match my long-time passion for Korean, I chose Korean Language and Literature as my major. I even prepared my stu...

Membuat Kantong Keberuntungan Hanbok Bersama KSI Surabaya | 수라바야 세종학당과 함께 한복 복주머니 만들기

 안녕하세요!  Kalau ada hal seru, enaknya diceritain ke 친구들 dong! Maka dari itu, aku mau cerita tentang pengalaman membuat kantong keberuntungan hanbok bersama King Sejong Institute Surabaya. Acara ini dilaksanakan Senin, 23 Mei 2022 via Zoom. Walaupun via Zoom dengan segala keterbatasannya, tapi acaranya seru banget dan persiapannya oke banget! ⭐⭐⭐⭐⭐ buat staff penyelenggara acaranya! Jadi, untuk bisa ikut acaranya ini, daftarnya harus cepet-cepetan karena kuota terbatas. Kalau dapat kuota, maka bisa ikut acara dan bahan-bahannya akan dikirimkan oleh KSI Surabaya. Nggak cuma bahan-bahannya aja yang dikirim, tapi juga dapet snack 양갱 rasa chestnut dan minuman 옥수수 수염차 secara gratis! 맛있게 먹었어. Acara ini juga TIDAK DIPUNGUT BIAYA sama sekali, bahkan ongkir pengiriman bahan dan snacknya pun ditanggung. Asyik banget, kan? Singkat cerita, acara dibagi menjadi 2 sesi. Di sesi pertama, ada penjelasan mengenai budaya sandang Korea, yaitu 한복 dan penjelasan singkat juga mengenai budaya pernika...